Thursday, September 24, 2009

Keluarga Terbaik

Liburan lebaran. Apa yang menarik? Apa yang luar biasa? Apa yang hebat? Kota? Bukan! Kotaku lebih tepatnya adalah desa kecil, tidak menarik. Panas, berdebu, dan makanannya pedas, demikian keterangan tambahan dari seorang sahabat.

Kesana kemari... melintas kota, justru itu yang kulakukan kemarin.



Sabtu, Semarang-Juana. Minggu, Juana-Semarang. Senin, Semarang-Juana, Rabu, Juana Semarang lagi. Whaaaaaa... persis bis antar kota dalam propinsi.

Tapi untuk pulang kali ini, ternyata ada juga pelajaran bagus yang kudapatkan, soal keluarga.

Senin malam, waktu kami berkumpul. Satu persatu kuperhatikan wajah 'kakak - kakakku' dan keluarganya. Ah, ternyata di sisi kehidupanku yang lain masih ada 'keluarga'.

Sejujurnya, mereka jarang kuperhatikan. Kesibukan, jarak dan 'lain-lain' membuat kami terpisah, bahkan tanpa komunikasi layaknya keluarga.

Kakak pertama. Pria. Jarak usia yang sangat jauh 25 tahun, jelas merupakan pemisah. Dia sudah terlihat tua sekarang, uban telah menebar di rambut kepalanya. Apalagi sejak kehilangan anak lelakinya saat menginjak dewasa tahun 2000 lalu, tak pernah sekalipun kulihat dia tertawa lebar seperti dulu.

Kakak kedua. Pria. Kegagalan rumah tangga membuatnya minggat dari rumah sejak aku SD, tetapi gantinya adalah anak yang seusiaku dan sekarang telah memiliki 3 orang anak. Kenakalannya, kebejatannya, kegilaannya, ada di tanganku, tapi sekarang, dia telah menjadi pria luar biasa. Aku dan dia tumbuh bersama satu rumah, bahkan dia orang pertama yang mengajariku merawat wajah dan tubuh. Ha ha ha...

Kakak ketiga. Pria. Dia orang yang sangat baik, terbaik yang pernah kukenal. Ratusan kali aku diantarnya keluar masuk dokter dan rumah sakit sejak aku usia balita, sampai dewasa. Dan anaknya adalah orang pertama yang mengenalkanku pada 'jemaat' yang akhirnya menuntunku pada pertobatan kelahiran kembali.

Kakak ke empat. Pria. Petani tambak, terlihat kasar, tidak berpendidikan, tetapi dialah kakakku. Tampil apa adanya, menjadi dirinya sendiri, itulah dia.

Kakak ke lima. Ibuku. Aku mengenalnya sebagai kakak hingga usia 17 tahun. Hubungan kami serapuh ranting kering di awalnya. Tetapi berbalik seratus delapan puluh derajat ketika aku mengakuinya sebagai ibu. Pengampunan, ketulusan, dan anugerah Tuhan telah membalikkan semuanya.

Kakak ke 6. Pria. Wajahnya mirip Syeh Puji lengkap dengan jenggot panjangnya. Dulu, dia salah satu orang yang paling 'tidak kukenal', tetapi sekarang aku tahu dia salah satu kakak 'terlembut' yang kumiliki, penuh perhatian dan kasih sayang kepada keluarganya.

Kakak ke 7. Pria. Tidak begitu cerdas atau memiliki 'daya tangkap' atau IQ lebih rendah daripada yang lain, dan juga sedikit tuli. Tetapi perhatian dan ketulusannya tidak bisa disangsikan. Dulu sekali, kami sering duduk bengong berdua, dan bercerita tentang apa saja. Aku berhasil meyakinkan keluargaku, bahwa se'bagaimanapun' dia, tetap seorang pribadi yang berharga dan luar biasa.

Kakak ke 8. Pria. Salah satu pria pertama yang paling berpengaruh dalam hidupku, usia yang hanya terpaut 3 tahun membuatnya terdekat denganku. Dia yang mengajariku berkelahi, mendorongku untuk belajar dan menjadi cerdas. Cinta, penolakan, dan persaingan menjadi warna hidup kami saat kanak-kanak dan remaja. Tetapi jalan hidup membuat kami menjadi dua orang yang sangat berbeda.

Sangat sukses di karier dan finansial. Berkecukupan dalam segala sesuatu. Hebat! Hanya satu kata itu yang tepat ditujukan padanya.

Duduk di sampingnya dalam sedan mewah selama perjalanan kemarin membuatku mengingat dengan jelas naik turunnya hubungan kami. Dia, pria pertama yang aku ceritakan tentang pertobatan kelahiran kembali yang kualami. Dia juga, pria pertama yang kupeluk dengan penuh kasih dan pengampunan saat dia memberikan hidup sepenuhnya bagi Kristus.

Aku mendukungnya sepenuh hati. Aku hampir mengira mengidap 'brother complex' saat aku katakan kepada calon iparku, "jika kamu sakiti dia... ingat saja..!

Dan, perkawinannya memang kandas, tetapi aku masih tetap mendukungnya. Hingga sekarang, akhirnya dia kembali menemukan "jalan pulangnya".

Kudapati memang kami sangat berbeda. Dia sangat mengutamakan kenyamanan, kepastian hidup, segala sesuatu yang tertata jelas dan rapi Sangat berbeda denganku yang 'gila petualangan', pertempuran, dan menikmati setiap tetes ketidakpastian hidup.

Selain 8 orang itu, sebenarnya ada 3 orang lagi kakak dari satu ayah. Aku tidak begitu mengenal mereka. Satu dari mereka pernah mengirimkan beberapa kalimat bertuliskan, "Maafkan aku tidak pernah mengakuimu I, tetapi ketahuilah kamu adalah adikku dan aku menyayangimu. Itu surat satu-satunya, dan belasan tahun telah terlewati, tanpa aku bisa mengenalinya lagi. Entah dimana dia berada...

Selain dia, ada satu kakak perempuan lagi, aku ingat sekali satu peristiwa yang mungkin satu-satunya terjadi dalam hidup kami, saat dia memberikan satu boneka beruang besar saat aku telah lulus SMA. Dengan sinis kukatakan,"Terlambat mbak,aku bukan lagi anak perempuan kecil yang bermain seperti ini". Sedangkan satu orang lagi yang berjarak 2 tahun denganku, tak bisa kukenal lagi. Entah dimana dan bagaimana hidupnya.

Silsilah kehidupanku rumit dan tidak jelas. Selain mereka ada saudara satu ayah, beda ibu, lalu satu ibu beda ayah. Satu adik dari ibu yang berbeda, dua adik dari ibu yang sama lagi... dan entah siapa lagi (yang mungkin tidak kuketahui keberadaannya). Ha ha ha... aku selalu bergurau jika orang bertanya dan berkomentar tentang mereka. Aku katakan, "Mungkin jika aku ikut termehek-mehek, bisa kutemukan lagi saudara entah kakak atau adik yang lain lagi, karena bapak 'kan orang yang rajin menabur benih dimana-mana... ha ha ha.."

Dan aku, saat semua mata saudaraku itu menatapku, menantikan aku berbicara. Aku menerima 'penerimaan' yang kurindukan. Aku, salah satu adik yang mereka sayangi entah terlihat ataupun tidak. Aku, meski tidak seorang yang 'hebat', tetapi satu bagian kecil dalam hidup mereka.

Ketika menatap lagi jalanan kering sepanjang jalan Juana Semarang, aku hanya bergumam pelan saat membuat tulisan ini, "Thanks God, Kau berikan keluarga terbaik di dunia. Tidak pernah ada yang kebetulan dengan mereka, aku berharap sama seperti aku dipanggil pulang untuk mengenalMU, demikian juga mereka.."

Doa tulus seperti nasehat seorang teman kepadaku, "Belajarlah tulus Ik, dan kamu akan mendapatkan ketulusan yang sama..."


1 comments:

Bandit Pangaratto September 24, 2009  

Nice post....

Keluarga yg penuh warna...


SAlam Perantau™ mbak Iik....

Post a Comment

Hi sahabat, tengkyu banget udah mau komentar... ayo semangat!!

Radio Worship

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP