Tuesday, January 18, 2011

Let The Waters Rise


Don't know where to begin
Its like my world's caving in
And I try but I can't control my fear
Where do I go from here?

sometimes its so hard to pray
When You feel so far away
But I am willing to go
Where you want me to
God, I trust You

There's a raging sea
Right in front of me
Wants to pull me in
Bring me to my knees
So let the waters rise
If You want them to
I will follow You
I will follow You
I will follow You

I will swim in the deep
'Cuz You'll be next to me
You're in the eye of the storm
And the calm of the sea
You're never out of reach

God, You know where I've been
You were there with me then
You were faithful before
You'll be faithful again
I'm holding Your hand

There's a raging sea
Right in front of me
Wants to pull me in
Bring me to my knees
So let the waters rise
If You want them to
I will follow You
I will follow You
I will follow You

God Your love is enough
You will pull me through
I'm holding onto You
God Your love is enough
I will follow You
I will follow You

Ohhh

There's a raging sea
Right in front of me
Wants to pull me in
Bring me to my knees
So let the waters rise
If You want them to
I will follow You
I will follow You
I will follow You

Ohhh

[ From: http://www.elyrics.net/read/m/mikeschair-lyrics/let-the-waters-rise-lyrics.html ]

these lyrics are submitted by FF5 Fan
these lyrics are last corrected by HPACTank


Read more...

Can't Take Away




All around
All of us
Fear has come and so we must
Ask ourselves
In who we trust
What we have here
Is not enough
So let it ring
In freedom sing

You can take away
Everything that I've been holding
You can take away the sun
You can take away the very air that I've been breathing
But you can't take away my God
Oh, my God, my God

Waves will come
And winds will blow
But it's not here I've found my hope
My beating heart
My weary soul
Is held by one who won't let go
And so I'll cling
To You my King

You can take away
Everything that I've been holding
You can take away the sun
You can take away the very air that I've been breathing
But you can't take away my God
Oh, my God, my God

A hope that can't be lost
A love that can't be bought
You can't take away my God
Nothing high or low
Nothing you can control
You can't take away my God

You can take away
Everything that I've been holding
You can take away the Sun
You can take away the very air that I've been breathing
But you can't take away my God

No you can't
No you can't
Take away my God
No you can't
No you can't
No you can't
Take away my God, Oh My God, My God.

[ From: http://www.elyrics.net/read/m/mikeschair-lyrics/can_t-take-away-lyrics.html ]

these lyrics are submitted by FF5 Fan
these lyrics are last corrected by Jerell Lieberknecht


Read more...

Wednesday, January 05, 2011

Siapa Penulisnya?

Pada suatu hari, tiba-tiba aku takut pada masa depanku. Sesaat kemudian Tuhan membawaku melihat pada perbukitan nun jauh di depan rumahku.

Dia bertanya, “Berapa jauh matamu bisa melihat ke depan anakKu?”

Jawabku, “Beberapa km saja Tuhan”

Kemudian Dia berkata, “Anakku, kamu hanya bisa melihat kehidupan sepanjang beberapa Km saja, tetapi Aku bisa melihat ke depan melebihi panjang umurmu”

Wow… Tuhanku memang luar biasa, kasihNya kekal selamanya (Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.41)

Masih ingat ga? (Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.42)

Maksudnya?

23 Juli 2000?(Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.44)

Sapa yang nulis?

Kamu (Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.46)

Aku? Yang bener? Dimana?

Buletin ************ No. 38, 23 Juli 2000 (Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.48)

Banyak tulisanmu yang menguatkan… (Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.49)

Aduh…. Beberapa waktu lalu Susi juga temukan 1 bendel hardcopy tulisan bebasku. Aku jadi malu to’ya..

Ha ha … memang tidak ada yang kebetulan (Sender: Prima +62085227***** Received: Today 12.51)
***

Kebiasaan ‘berpindah-pindah’ ternyata berakibat seperti ini bagiku. Banyak yang bisa tercecer dimana-mana. Buku-buku mahal, barang-barang, file dokumentasi, juga beberapa arsip tulisan, yang tentu saja aku sudah melupakannya. Kali ini ‘penemu’ nya adalah sekretaris baru di gereja kami yang baru saja mengangkut sebuah Filling Cabinet beserta semua isinya yang terbengkalai beberapa bulan karena kutinggal pindah kantor.

Beberapa waktu lalu Asissten di kantor yang lama tiba-tiba mengirim sms, “Aku temukan 1 bendel hard copy tulisan2mu… ya ampun! Ternyata kamu itu segitunya ya… Sorry aku membacanya tanpa permisi, tapi aku sungguh belajar banyak dari situ. Tuhan kita memang luar biasa. Teruslah semangat, apapun yang sedang kamu lewati sekarang!!”
***

Siapa Penulisnya?

Tiba-tiba satu kalimat ini membayang di pikiranku. Ingatanku tiba-tiba melesat ke buku-buku catatanku yang sekarang entah dimana (terselip, tercecer, atau mungkin hilang). Hampir semuanya menuliskan tentang hal-hal entah berat ataupun ringan yang terjadi dalam hidupku. Ahhh… semua tulisan itu… gimana kalau ditemukan orang? Aduh… aku pasti malu berat! (Padahal isinya bukan hal yang memalukan… paling-paling seperti tulisan2 ini, karena dulu aku menulis dengan tangan dan sekarang pake computer, itu saja bedanya).

Huuuffff… banyak hal yang telah terjadi di masa lalu, beberapa diantaranya tertulis di kertas, beberapa lagi diantaranya tertulis di hatiku saja. Seandainya saja aku bisa melihatnya kembali, atau mungkin memperbaiki beberapa hal diantaranya.

Eitttttt… tunggu! Sepertinya aku mendengar seseorang mengatakan juga hal ini beberapa hari lalu.

“Seandainya… waktu bisa diputar kembali pasti aku tapi melakukan banyak hal yang tidak pernah kulakukan, dan memperbaiki banyak hal salah yang kulakukan”

Bisakah itu bisa terjadi? Jika hal itu benar bisa terjadi, apa yang harus kuperbaiki, mana yang kusesali? Mungkin berbeda dengan seseorang… yang entah mengapa tiba-tiba ingin kembali ke masa silam, tetapi tidak bagiku.

Tidak ada! Semuanya telah terlanjur tertulis di lembaran kehidupanku, dan tidak ada satupun yang bisa kusesali bahkan hal yang terindah sekalipun.

Dulu, waktu aku memilih melepaskan tawaran pekerjaan yang lebih menggiurkan, dan melewati hari-hari yang sulit itu.

Dulu, waktu aku memilih untuk meninggalkan semua tawaran kemegahan, fasilitas lengkap dan kembali ke hari-hari yang penuh ketidak pastian demi satu janji pasti.

Dulu, waktu aku memilih untuk ‘mengampuni dan melepaskan’ orang demi orang yang melukiskan luka di hati dan jiwaku

Dulu, waktu aku memilih untuk mengatakan ‘ya’ bagi panggilan yang sungguh mahal harganya ini.

Dan, dulu waktu aku mengatakan “ya” bagi Kristus, penebusan, keselamatan dan anugerah dariNya, meski setelahnya hidupku menjadi terbalik dan kehilangan banyak hal.

Atau mungkin ke masa sebelum itu? Inginkah aku kembali ke masa sebelum itu? Tidak! Tidak sama sekali. Karena jalan di sana amat gelap dan pekat, tanpa arah dan tujuan.

Ahhhh… semuanya telah dituliskan di lembar demi lembar kehidupanku, diijinkan Tuhan terjadi supaya ada hari ini. Jika hari-hari itu tak kulewati kemarin, aku tak akan seperti hari ini.

Jika aku harus kembali ke masa silam dan memperbaiki banyak hal di hari kemarin, mungkin aku tak akan dipertemukan satu persatu orang yang begitu berharga di hatiku hari ini.

***

Siapa Penulisnya?

Hampir 3 bulan ini aku berhenti menulis. Berhenti menuangkan rangkaian kata dan kalimat yang biasanya mengalir bebas di otakku. Semua terhenti hanya karena kesibukan yang menggila. Tapi bagaimana dengan hidupku? Semuanya tetap saja menuliskan lembar demi lembar pada sejarah kehidupanku di setiap detiknya.

Aku, hidup yang kuhidupi, kehidupanku, tertulis atau tidak pada kertas dan PC mungkin akan tertulis pada ingatanku, juga beberapa orang.

Seperti sms seseorang kepadaku beberapa waktu lalu, “Saat aku melihatmu selintas saja, aku … ada sesuatu yang tidak terkatakan betapa hebatnya anugerah yang dicurahkanNya kepada wanita sepertiku sehingga DIA mempertemukanku denganmu”

Suatu saat, tulisanku yang ‘tertulis’ mungkin akan ditemukan serta dibaca orang, tetapi tulisan kehidupanku setiap waktu ‘pasti’ dibaca orang, entah itu menghasilkan sesuatu yang baik ataupun yang buruk dan jahat.

Aku berharap, hidup dan kehidupanku di panggilanNya, semoga bukan hanya dibaca orang, tetapi lebih dari itu semoga bisa menjadikan teladan bagi beberapa orang.

***

Dan, siapa penulisnya?

Aku!

****************

Dec ‘10

Read more...

Wednesday, December 15, 2010

Injil Instant



Dalam diam
Kutatap lekat seorang
Kuperhatikan setiap gerak geriknya

Ada yang bergolak di hatiku

Ada yang kurang
Ada yang tidak semestinya
Ada yang tidak seharusnya terjadi
Apakah sesuatu telah berubah?

Ledakan itu tak terjadi
Kobaran itu tak nyata
Nyala itu tak memanaskan jiwa
Apinya tak menghanguskan

Ada yang salah
Dimana?
Siapa?

Pemberitaan kami telah kehilangan arti?
Hati kami tak lagi dipenuhi belas kasih?
Mata kami tak lagi dipenuhi tujuan Illahi?
Langkah kami tak lagi dikuasai visi?

Kenapa hasilnya tak sama?

Berubahkah Tuanku?
Telah melemahkah kedahsyatanNya?
Telah memudarkah keajaibanNya?
Telah mengecilkah apiNya yang menghanguskan?

Tentu Tidak!
Bukan DIA!

Kami kompromikan kasihNya dengan kedok kebaikan hati kami yang membusuk
Kami melemahkan kuasaNya dengan kedegilan hati kami
Kami hiasi kekuatanNya dengan karya tangan kami yang najis
Kami padukan Firman hidup itu dengan pengetahuan kami yang menggelikan

Saat penebusan Kristus bukan lagi kabar berharga kami
Saat darah Kristus bukan lagi berita pembebasan kami
Saat salib Kristus bukan lagi kekuatan kami
Saat Injil Kristus bukan lagi kehidupan kami…
yang menghidupkan

Orang-orang percaya
Anak-anak yang Kau kasihi,

Menjadikannya makanan instant di generasi kami
Membumbuinya dengan rasa yang meracuni
Mencampurnya dalam adonan kematian

Ya Tuhan… kamilah pelakunya

Pembunuh bayi dan anak-anak kami
Pencetak generasi lemah dan memuakkan
Pembentuk laskar Kristen pecundang

Jika air mata kami adalah kepalsuan
Jika sujud kami adalah kemunafikan
Jika tangan kami yang terangkat adalah kebejatan
Jika tulisan kami adalah potret buram diri yang tersembunyi di balik kehebatan merangkai kata

Ya Bapa penguji hati dan batin
Tiada yang terlewatkan bagiMu
Tiada yang tersembunyi di mataMu

Ampuni kami…
Nyalakan apiMu dalam jiwa kami
Bakar hati kami
Sebelum kami lenyap seperti asap
Esok hari

Bukan Puisi, 15 Desember 2010

Read more...

Friday, October 29, 2010

Perubahan




Aku arahkan pandanganku ke cermin sekali lagi. Aku perhatikan baik-baik rambut, wajah, baju, sepatu. Berubah!

***

“Hei… haloo… aduh aku kangen lho sama kamu, lama juga ya kita nggak ketemu… kamu berubah ya..” kata Pak Tedja mantan Bossku dari Jakarta dengan senyum dan tepukan lembutnya di bahuku.

“Iyalah pak… masak saya mau sama terus dari waktu ke waktu…” jawabku enteng sambil ketawa ketiwi seperti biasa

“Ha ha ha! Cuma cengengesanmu itu masih belum banyak berubah ya…” katanya lagi

“Ha ha ha ha ha… yang satu ini susah pak…” jawabku sambil tertawa
***

“Aku perhatikan kamu lho… banyak ternyata yang berubah dari kamu..” kata Wahyu seorang anak komsel ku beberapa waktu lalu

“Perubahan dari kapan?”

“Ya sejak aku kembali lagi kepada Tuhan beberapa bulan ini to’… Seingatku dulu kamu nggak begini lho..” jawabnya

“Emang dulu gimana?”

“Seingatku yang terakhir sekitar tahun 2005 sebelum akhirnya aku mengambil keputusan terburuk dalam hidupku yakni mundur dari Tuhan, kamu ga seperti ini. Kamu tuh’ orangnya serius gitu. Tapi sekarang…”

“Ha ha ha ha… tahun udah berganti neng… jaman telah berubah. 5 tahun terakhir ini aku telah mengalami banyak hal. Jadi ya… mungkin itulah efeknya”

“He he he… tapi asik juga bergaul dengan kamu yang sekarang. Bisa ngomong apa aja tanpa ragu-ragu…”

“Hallah! Yang terpenting bukan itu… perubahan bisa saja terjadi pada setiap orang, jaman bisa berganti, penampilan bisa berubah, tapi masihkah ada api Tuhan dalamku, masih semangatkah aku? Itu yang layak kamu cek… perhatikan…” jawabku

***

Perubahan. Itu yang dibahas dan diinginkan banyak orang, dibicarakan, mulai dari politik, social, budaya, ekonomi dan entah apalagi. Semuanya dipaksa mengikuti jaman, arus, trend, yang tertinggal akan disebut ketinggalan jaman, jadul, jayus.

Ke salon, merubah 60% penampilanku, memotong sepanjang 30 cm rambut hitamku yang panjang, tebal dan berombak, memberinya layer sehingga ikalnya berjatuhan liar di pundakku, merawatnya. Aku menyukai model kali ini yang hanya membutuhkan jari untuk merapikannya. Mengganti beberapa kemeja ‘simple’ dengan atasan ‘feminin’ yang dihiasi dengan pita, potongan leher yang manis, kerutan atau warna cerah, meskipun terasa janggal di awalnya. Merubah sepatu flat ku (yang biasanya tidak akan kubuang kalau belum remuk, karena aku pejalan kaki yang tangguh, maka aku paling boros di sepatu) menjadi sepatu model ‘Marry –Jane’ pemberian seseorang di ultahku lalu, yang kata adikku sebagai ‘model sepatu cewek paling digemari di seluruh dunia’(aku kuatir sepatu cewek mahal model ini tak akan bertahan lama di kakiku… he he..). Meninggalkan tas ‘perang’ dan menggantinya dengan tas ‘cewek’ yang dulu hanya kupakai saat ibuku mulai cerewet karena sudah dibelikannya tapi nggak pernah dipakai. Tidak mempedulikan tatapan dan celetukan heran tetangga, aku mulai melangkah dengan percaya diri. Yang belum bisa kulakukan hanya memakai rok pergi ke kantor.. he he he…

Bukan.Meskipun perubahan ini bukan menjadi perkara mudah bagiku.

Membiasakan diri memerintah dan tidak lagi diperintah. Merubah semua urusan kreatif menjadi berhitung. Memfokuskan imajinasiku pada tata ruang yang rapi dan layak. Mengganti urusan pernak pernik kartu pendeta dengan mengetahui urusan instalasi listrik, air, telephone, water heater, dsb. Berganti urusan karcis parkir dan satpam ke occupancy, perbaikan pelayanan, pengaturan SDM, dan promosi. Membelokkan langkahku saat di toko buku dari stand design grafis, agama, novel, psikologi ke arah tata ruang dan menu masakan, bahkan perhitungan akuntansi sederhana (yang terakhir ini paling menyebalkan untuk dipelajari).

Bukan itu!

Bukan pula jam kerja yang bisa berubah dan diperhadapkan pada keadaan darurat yang mungkin saja datang mendadak. Ketika di tengah malam aku terpaksa harus menelpon seseorang tentang terjadinya kerusakan fasilitas dan memperoleh tanggapan, “Kamu jam segini masih di situ? Ok… ini yang mesti kamu lakukan di saat seperti ini… panggil teknisi kamu… lihat sendiri … minta diantar satpam kalau disana… jangan takut…”

Bukan!! Bukan!!

Meski akhirnya… step by step… dengan tuntunan, pembelajaran, aku terpaksa menghadapi tantangan, kesulitan. Masih sangat pemula, jauh dari sempurna, tapi minimal aku mulai membiasakan diri dengan semua kondisi, dan terus merendahkan diri untuk belajar keras, meskipun sebenarnya hasrat untuk menyerah jauh lebih besar daripada keinginan untuk bertahan dan berjuang.

***

Tiba-tiba kusadari, manusia itu ditakdirkan untuk bisa menjadi hebat! Sangat hebat!

Tidak ada yang mustahil dan terlalu sulit untuk diubah, kata seseorang padaku. “Kamu itu sebenarnya bisa… hanya begini… begitu…” Begitu panjang kali lebar kali tinggi nasehat, dorongan, koreksi yang diberikan setiap kali aku bicara padanya

Dan segala sesuatunya pelan namun pasti dalam diriku semakin berubah…

***

“Ada sesuatu yang tidak seharusnya…”

“Apa?”

“Aku tidak tahu. Tapi ini menggelisahkanku, membuatku tidak tenang. Aku tidak melakukan kesalahan apapun, tapi ada rasa aneh… tidak wajar.. entahlah… aku belum menemukan titik terangnya… mungkin aku terlalu banyak memikirkan semua ini lebih dari sebelumnya. Aku … takut! ”

“Takut?”

“Mungkin ini kelihatan aneh, lucu. Tapi aku serius. Aku takut gagal, itu iya. Takut tak berhasil memimpin orang-orang, itu juga iya. Takut salah dalam mengambil keputusan besar, itu mungkin juga. Tapi lebih dari semua itu, aku ketakutan akan sesuatu… takut kalau aku menjadi terlalu duniawi. Takut kehilangan gairah akan Tuhan. Takut aku tak bisa ‘melihat’ seperti yang sebelumnya. Takut menjadi teralihkan dari sesuatu yang ….
Hummmmmmphhh… entahlah… mungkin aku yang terlalu lebay.. atau mungkin selama ini aku telah menjadi sombong rohani, atau apa…!”

“Mulailah dengan melakukan hal yang tidak lagi menjadi prioritas hatimu di pagi hari…”

Waktu terus berjalan… hari demi hari berlalu… dan aku terus berubah…

***

Bantulah aku menemukan diriku, kekuatanku, sukacitaku, hidupku…

Dan…

… namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula… (Wahyu 2: 2-5)

Cukup sudah!

Titik terang itu bersinar di hatiku, memberikan jawaban di setiap pertanyaanku, memberikan tuntunan baru di langkahku berikutnya.

***

Sunyi, seisi rumah telah larut dalam mimpi, hanya suara air yang turun menghujam bumi terdengar keras. Aku masih terjaga tanpa suara.

“Bapaku… Kau tahu aku… Kau tahu kalau aku ragu-ragu, takut dan tidak percaya diri,… Kau juga tahu perjalananku kali ini tidak lebih mudah dari sebelumnya. Aku tahu aku tak bisa menghindarinya, menolaknya, meninggalkannya sekarang, tapi tolong bantu aku menemukan kembali diriku, kekuatanku, sukacitaku. Bawalah aku kembali pulang… ditempat aku menemukan kehidupanku”

***


Esoknya, di suatu event.


“Hai… kamu Iik kan? Masih ingat aku? Kita pernah satu tim di …” sapa seseorang pria dengan wajah cerah dan senyum lebar (aku berusaha mengingatnya tapi gagal, sampai akhirnya dia sendiri yang berusaha menjelaskan panjang lebar)

Ketika dia telah berlalu, seseorang berbisik pelan di telingaku, “Aku sudah sedikit bicara soal Injil Keselamatan padanya. Dia gembira, mari kita percaya dia akan menerima keselamatan yang sama seperti yang telah kita terima”

Aku teringat satu doa yang pernah kunaikkan beratus hari sebelumnya, “Tuhan aku minta satu atau dua orang dari tim kami ini bisa mendengar Injil anugerah dan kasih setiaMu…”

Tak ada sesuatu yang terjadi waktu itu… hingga ratusan hari berikutnya... Doaku terjawab, meskipun bukan melalui aku Injil itu diberitakan kepadanya. Aku tahu, DIA yang mendengar doa, tak ada satupun yang terluput di mataNya, di ingatanNya… meskipun aku mengira kalau DIA telah melupakannya… satu doa kecilku yang sederhana di suatu perjalanan sebelumnya.

***

Esok berikutnya ketika ikut bergabung dengan acara ‘bakar jagung’ para mahasiswa.

“Hai… namaku Iik. Panggil aja begitu… “ sapaku sambil mengulurkan tanganku

…………………………

…………………………

“Boleh aku sedikit bercerita tentang hidup?” tanyaku kepada seseorang

“Boleh tentu saja!”

Ada letupan kecil yang terjadi di hatiku.

Ya Tuhan… Aku merindukan ‘rasa’ ini.

…………………………

…………………………

Rasa itu kembali. Pengharapan itu muncul seperti benih kecil, terlihat lemah, namun hidup…
***

Sore berikutnya lagi. Usai makan dan harus mengantar seorang sahabat ke toko buku.

“Hai… namaku Iik. Panggil aja begitu… “ lagi-lagi kuperkenalkan namaku dengan cara yang sama kepada seorang wanita

…………………………

…………………………

“Oya? Bisakah kapan-kapan kita ketemu, dan bicara bersama soal ini?” tanyaku

Rasa itu kembali. Pengharapan demi pengharapan kembali muncul seperti benih kecil, terlihat lemah, namun hidup… dan kali ini menyinari jiwaku… menerobos kegelapan…

***

Siang ini. Aku berjalan berkeliling dan control mendadak seperti biasa. Langit cerah… pekerjaan masih sangat banyak, tanggung jawab masih bertumpuk, dan beberapa hal penting masih menunggu jawaban final dariku, namun aku memutuskan untuk bergembira dan mencoba menikmati semua anugerah selama beberapa waktu tanpa diganggu siapapun.

Tiba-tiba, satu kupu-kupu dengan warna indah hinggap di lengan bajuku, pelan aku menyentuhnya, menjepit sayapnya lembut dengan ujung jariku dan melepasnya terbang jauh ke pepohonan.

Perubahan telah membawaku pergi jauh…

Tidak ada yang salah dengan perubahan. Sama sekali tidak ada. Dia melatihku, mendidikku menjadi lebih pintar, kuat, tajam, sensitive dan lebih banyak lagi hal positif. Tetapi, perubahan itu membawaku tanpa sadar ‘lebih berpaling’… ke arah yang tak kukenal… menaburkan kehampaan, ketakutan dalam jiwaku, membuatku terpisah dari ‘rasa’ yang begitu kuat mengikat hatiku. Aku terjatuh dan nyaris tersesat di dalam RUMAHku sendiri.

Dan,

Untuk ke sekian kalinya…

Aku memutuskan kembali pulang! Menemukan lagi kehidupanku, dan meneruskan perjalananku.

***************

Thanks’ from my deepest heart…

Read more...

Radio Worship

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP