Thursday, November 19, 2009

Samarinda Journey 5

Hari ini sama dengan hari2 sebelumnya. Guest House, hotel, tempat lomba, tribun, ambil gambar.

Hanya beberapa catatan yang aku ambil di hari ini.

Pagi hari, seorang ibu menegurku demikian, "Ehmmm... menurut mbak, yang terjadi di hari pertama itu kenapa? Masak hotel ini sudah dibooking 1 tahun sebelumnya tetapi tetap ada kekacauan? Itu sabotase bukan? Pasti sabotase ya... pasti begini... begitu..."

"Saya nggak tahu bu. Tetapi saya rasa itu human error biasa" jawabku

"Ah... mbak nggak usah pura-pura bodoh. Ini tanggapan pribadi mbak... nggak usah takut.." kata ibu itu lagi.

"Tidak bu. Saya tidak berpikir apa-apa. Hanya 'human error dan missed comunication. Itu saja"

"O....gitu. Bagus kalau gitu. Anda orang yang berpikir positif ya" kata ibu itu sambil meninggalkanku dengan senyuman sinis

Ha ha ha... aku tahu ibu itu sebenarnya mencari 'respon' dariku soal pembicaraannya. Tapi aku sedang tidak mau membahas hal-hal demikian. Aku sedang tidak mau terlibat 'polemik' yang tidak penting dan tidak perlu.

***

Selanjutnya, aku mengamati kawasan yang dipakai lomba ini. Bagussss... Semarang aja mungkin tidak akan berhasil membuat kawasan seperti ini.

Hotel atlit, dengan kapasitas ribuan orang, fasilitas lengkap, parkir luas dan sangat memadai untuk dipakai sebagai tempat kegiatan apapun. Sangat menyenangkan jika ada hotel seperti ini juga di kotaku.

Berhadapan dengan hotel alit ada gedung serbaguna, lengkap dengan AC, tribun yang bersih, halaman parkir luas, bahkan tempat luas yang bisa dipadati penjual ataupun kegiatan pasar malam.

Di sebelah kiri hotel atlit ada GOR Madya Sempaja. Warna biru mendominasi tribunnya dengan fasilitas lengkap, rapi dan bersih. Menyenangkan pastinya jika berolah raga di tempat seperti itu.

Masih ditambah lagi 2 GOR kecil, Basket dan juga PUSDIKLAT, Asrama atlit, jalanan beton yang lebar dengan pepohonan berbunga merah, rumput. Meski luar biasa panas, tapi kawan ini sangat luar biasa. Pasti dirancang dengan baik dan seksama sehingga apapun kegiatan masyarakat, baik taraf lokal, nasional maupun Internasional akan tertampung didalamnya dengan baik.

Panitia, para petugas LO, Kepolisian, Pedagang, bahkan sopir-sopir terlihat terkoordinasi dengan baik (yahh... kekurangan pasti ada, tetapi paling tidak terlihat adanya kerja keras dalam memberikan pelayanan yang terbaik).©©Ke depan, jika terus dikelola serius, dan ditambah dengan peningkatan sumber daya manusia, serta penggalian budaya dan pariwisata, maka kota ini pasti akan menjadi tujuan utama pelaksanaan event-event hebat dunia.

***

Malam. Aku diajak bicara seorang bapak panitia dari Semarang soal jodoh dan keinginan menikah. Dia berencana untuk mendoakanku soal 'aura' kemuliaan Tuhan supaya enteng jodoh.

Whatttt's!!! Tidak masuk akal!!!

Lebih dari semua yang bisa ia katakan, aku menyanggahnya. Alarm'ku berbunyi, menandakan suatu yang 'tidak seharusnya' sedang diperhadapkan padaku.

"Kemuliaan Tuhan didapat dari hasil persekutuan kita dengan Tuhan. Jika Kristus di dalam kita, maka akan ada kemuliaan Tuhan dan juga air hidup yang memancar melalui kita. Itu bukan hasil didoakan, tapi kesungguhan hidup kita sama Tuhan"

"Tapi, seseorang bertobat itu hasil dari didoakan sama orang lain" kata bapak itu

"Bedakan! Ini kotak yang berbeda. Dan lagi, saya tidak mendapati satu ayat Firman Tuhan, soal terapi aura untuk kemuliaan Tuhan! Itu bukan berasal dari DIA" sanggahku

"Oya, satu lagi pak. Saya ingin menikah! Saya tahu pasti suatu saat nanti akan menikah. Seseorang itu akan datang kapan saja dan darimana saja. Syaratnya hanya satu bertobat lahir baru dan hidup sungguh-sungguh sama Tuhan. Saya hanya mempercayai janji Tuhan bahwa saat kita mencari Tuhan dan kebenaranNya terlebih dahulu, maka Ia sendiri yang akan menambahkannya bagi kita. Termasuk diantaranya karier, duit, dan juga jodoh! Saat ini saya hanya perlu setia dan taat pada apapun yang memang dikehendakiNya. Besok ia pasti datang!!" jelasku panjang lebar

"OK. kalau gitu kita memang tidak mencapai kata sepakat untuk hal ini" jawab bapak itu

"Ya. Tenang saja. Saya aman dengan Tuhan! Saya tahu janjiNya, dan saya memegangnya" jawabku mantap

***

Huaaaaaaahmmm... dan aku langsung ndelosor ... tidur

Read more...

Samarinda Journey 4

Bangun pagi langsung mencuci pakaian, mandi, mempersiapkan diri dan berangkat ke tempat lomba.

Menunggu tim paduan suara wanita tampil, aku mengamati dari tribun bersama para videographer 'sungguhan'. Tak ada yang mengenalku selain kontingen jawa tengah, jadi aku cuek saja jalan kesana kemari sambil menenteng peralatan-peralatanku.

Banyak pertanyaan 'liar' melintas di benakku.

"Apa yang dipikirkan mereka ya?Sungguh-sungguhkah mereka menyanyi bagi kemuliaan nama Tuhan? Bisakah kutemukan seseorang yang hatinya kosong di sini? Adakah orang yang mempertanyakanMu di antara 5000 orang ini? Untung saja Tuhan memilihku tidak berdasarkan suara, karena jika itu yang terjadi maka aku mungkin tidak akan pernah terpilih seumur hidupku. Ha ha ha ha..."

Dimana - mana kulihat orang berkumpul, bekerumun, berbicara. Aku teringat perjalanan 5 tahun ke belakang waktu masih sibuk jadi 'tenaga bayaran' di partai. Pemandangan yang sama, perbedaannya terletak pada pembicaraan dan tatapan mata mereka. Di partai selalu kutemukan tatapan mata curiga, wajah yang tidak ramah, datar, tanpa ekspresi, dan penuh rancangan-rancangan yang tidak kumengerti. Ha ha ha ha... tetapi kutemukan juga salah satu orang yang seperti itu di sini.

Aku tak tahu jelasnya, tetapi 1 orang dari kontingen jawa tengah itu tak pernah tersenyum indah, tak pernah ramah, tak pernah bersahabat. Bukan hanya kepadaku ... tetapi juga kepada banyak orang lain. Aku sempat berpikir 'demikianlah orang seni'. hi hi hi... tapi secepatnya kutepis anggapan itu.

Seni boleh aja... tapi jangan bikin orang senewen... hua ha ha ha. ..

Dan disinilah aku sekarang, menunggu pertandingan paduan suara remaja. Ngantuk, bengong... lalu menulis 'lagi.

Usai paduan suara remaja aku langsung kabur ke lomba solo anak putra. Tepat waktu karena ternyata sudah segera tampil.

Sore menjelang. Beberapa panitia sibuk ngomongin panitia yang lain, sumpek, pusing, aku memilih untuk duduk bengong di halaman.

Membaca Alkitab, menulis dan akhirnya berbicara dengan seseorang. Halleluyah...

Seorang cowok, LO atau Laison Officer untuk Jawa Tengah. Aku bertanya banyak hal tentang Kalimantan Timur, dan dengan sukacita dia menjawabnya bahkan menambahkan dengan cerita seputar kerjaan sebagai LO.

Dia bertanya, "Kenapa belum menikah?"

"Kamu tahu cowok itu kayak gimana kan? Sementara ini belum ada 1 orangpun yang bisa benar-benar kupercayai selain Yesus Kristus" jawabku sambil tertawa lebar

Yahhhh,... hanya sedikit kesaksian singkat. Tapi lumayanlah...

Sampai di guest house, aku kembali bisa bercerita dan kesaksian dengan 2 orang ibu yang sekamar denganku.

Thanks God untuk hari yang luar biasa


Read more...

Samarinda Journey 3

Hari 1 perlombaan. Punggungku terasa pegal, tapi aku tetap menggendong tas punggungku yang berat. Aku tak mungkin meninggalkannya di suatu tempat tanpa penjagaan.

Hadir di hotel atlit, aku mendengar suara-suara orang berlatih vokal dimana-mana. Pusing dan pekak terasa telingaku. Mungkin karena tidak terbiasa mendengar suara berdengung. Ha ha ha atau mungkin karena aku sama sekali tidak mengerti soal olah vokal dan musik.

Tetapi, mungkin juga karena semua yang ada di sini bersuara bagus dan bagus dan bagus... jadi membingungkan telingaku yang terbiasa suara fals dan aneh.

Jujur aja, dunia kali ini asing bagiku.

Apa yang bisa dinikmati dari orang menyanyi mirip seriosa kayak begini. Dimana letak keindahannya? Dimana sensasinya? ha ha ha...

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil menggendong handycam, menenteng tripod, dan beberapa barang lain. Duh pegel berat....

Aku tertinggal 1 tampilan. Paduan Suara Pria baru saja selesai menyanyi waktu aku menginjakkan kaki di gedung itu.

Aku tak mengenal 1 orangpun di tempat ini, dan belum ada 1 orangpun yang bisa aku ajak berteman dan berbicara. Jadi, aku lebih banyak mengamati orang yang sibuk ke sana kemari atau menulis.

Hari ini tidak ada kesulitan atau masalah yang berarti. Berlangsung lancar dan biasa, aku masih tetap mencari seseorang, tetapi belum kutemukan siapapun.

Sore hari aku ada di tengah-tengah KKR yang diselenggarakan panitia. KKR ini seperti KKR-KKR lain yang pernah kuselenggarakan. Ada artis yang menyanyi heboh, ada artis ganteng yang membuat orang-orang terpaku.

Hahhhh!!! Sepi! Bisu! Kosong!

Aku tak mau munafik, tetapi itulah yang kurasa di acara-acara seperti ini. Jika hanya bibir yang bernyanyi tanpa hati apa gunanya? Jika hanya penampilan elok tanpa kesungguhan hidup dalam Kristus apa artinya?

Saat Firman Tuhanpun diberitakan itu bukan Firman Tuhan yang sebenarnya!

Whatttt'sss???!!!

Firman yang mudah, tanpa penyangkalan diri, tanpa tantangan kesungguhan mengikut Tuhan, dan tanpa dasar ataupun tujuan jelas. Bullshittttt!!!!

Yaaaahhhh.... akhirnya, daripada aku cuma menguap terus di tengah kebaktian, maka kuputuskan untuk duduk nongkrong di tangga, sambil menulis lagi...

Akhirnya... pulang dan terkapar lagi dengan sukses.... uahhhhhmmmm...

Read more...

Samarinda Journey 2

Bangun Pagi. Badan terasa ringan. Tetapi, perjalanan belum berakhir. Hari ini pasti akan sangat berat dan susah.

Sambutan kata -kata tidak sedap telah muncul dari sebagian kontingen karena masalah penginapan. ahhhhmmmm... aku putuskan untuk 'cuci tangan' supaya aku tidak makin terjerumus dalam intrik pelik yang bukan bagianku.

Berjalan ke sana kemari, mengirim sms, mengurus hal besar sampai dengan hal remeh temeh adalah hal berikutnya.

Cuek dan aku berusaha menikmati semua. Tidak memusingkan diri dengan banyak perkara, banyak makan, banyak minum dan banyak tertawa. ha ha ha ha...

Defille (aku baru tahu ternyata defille itu kayak begitu.. he he he), upacara, sampai noton sendratari di lapangan. Lagi-lagi aku cuek duduk begitu saja di rumput di bawah gawang.

Indonesia itu indah, begitu cantik tarian, begitu elok kebudayaannya. Ahhhh... apalagi jika ditambah dengan orang-orang yang takut akan Tuhan (semoga di waktu mendatang bertambah banyak).

Aku menyempatkan diri bertemu dengan Elly, salah satu teman yang kudpatkan dari dunia maya.

Pertemuan yang ajaib, karena dia tidak menyangka aku 'seperti itu'. Ha ha ha... orang kesekian yang salah sangka terhadapku. I don't carelah..

Sore menjelang. Ternyata aku tidak jadi menginap di hotel, tapi di suatu guest house kuno, sepi dan agak-agak seram, berjendela bundar pula, lebih cocok untuk dipakai tempat shooting pilem horor ala Indonesia... he he he... Kayaknya aku bakal berpikir 100 x jika harus menginap di tempat seperti ini sendirian.

Tetapi, capek berat telah menyerang. Dan aku terkapar...dan melayang....

zzzzzzzttttt... zzzzzzttttt....

Hari ke 2 di Samarinda berlalu...


Read more...

Samarinda Journey 1

Akhirnya, tanggal 6 November tiba. 5 Bulan penuh aku berkutat dan mempersiapkan segala sesuatunya, dari hal yang paling sepele sampai paling vital.

Desain brosur, kaos, sampai ID CARD, seluruh daftar peserta, tiketing, koordinasi, kendali informasi panitia, hahhhhh.... full.

Konsentrasi yang terpecah, tak terfokus, pelupa, sampai emosional adalah resiko yang harus aku tuai.

Agenda berubah! Itu biasa bagiku, tapi tidak bagi banyak orang lain. Aku tak tahu, itu mungkin karena kebiasaanku yang 'nomaden', seperti pengembara gypsi ha ha ha...


Ibu begitu mengkhawatirkanku yang nekat naik travel sore hari ke Jogja an barang bawaan berharga dan uang tunai puluhan juta milik panitia.

Sampai di Jogja Pk. 23.00. Di rumah Yopie ternyata bakal kedatangan tamu subuh nanti. Akhirnya aku,memilih untuk menginap di center sister. 100% kuakui hanya di jemaat, aku menemukan 'yang tidak akan kudpatkan di tempat lain', penerimaan, keramahan, ketulusan. Meski tengah malam, aku masih semangat membagikan kesaksian dan cerita-cerita menyenangkan.

Subuh, aku bangun. Satu sister telah menyiapkan air panas untuk mandi, nasi goreng dengan babi, teh hangat yang menyenangkan. Dan diantar 3 brother ke Bandara. Ahhh... praise God, sedikit kemudahan di tengah padatnya pikiran!

Sampai bandara, aku telah diperhadapkan dengan rombongan berjumlah 165 orang yang harus kutangani. Tak terbayang repotnya. Mulai dari name list, airport tax, bagasi, huaaahhmmm...

Yah.. semua selesai. Tapi justru aku yg bermasalah, peralatan serba gunaku ternyata terselip diantara barang di tas punggungku, disita, dan dimasukkan ke salah satu tas yang berderet. Dan... lenyap!

Sampai di Balikpapan Pk. 10.00 WITA. Ha ha ha... kenekatanku yang berikutnya muncul, ditanya oleh panitia setempat aku langsung menjawab, "Ya! Saya Ketua Panitianya". Diberi kalung khusus, diberikan salam, difoto, dan jadilah aku bertanggung jawab untuk pengaturan bis, angkutan dan lagi-lagi jumlah bagasi yang se 'Indonesia Raya banyaknya'.

Ha ha ha ... sok heroik, biasanya demikian komentar orang-orang, tapi aku cuek aja. Aku benci pada penakut, pecundang, munafik, dan orang yang hanya bisa berkomentar tetapi tanpa keberanian bertindak.

Perjlanan Balikpapan - Samarinda kami tempuh dengan bis dan 3 Kijang memerlukan waktu 2,5 jam. Aku menikmati perjalanan. Satu mobil dengan para pria yang sebelumnya selalu membuat masalah dan membuat 'keki'. Ha ha ha.... aku taklukkan mereka telak dengan kelakarku yang konyol dan kacau.

Mobilnya gede-gede, rumah kayu, hutan, jalanan naik turun, itu yang aku perhatikan di sepanjang perjalananan.

Sampai di Hotel Atlit. Ternyata ada kesalahan fatal yang terjadi. Hotel masih digunakan oleh PEMDA untuk kegiatan setempat, padahal bis sudah terlanjur pergi.Akhirnya seluruh kontingen terpaksa terjemur di pelataran selama kurang lebih 4 jam.

Menjelang sore barulah seluruh team diantar ke BLK Kehutanan, dan kesibukan dilanjutkan dengan pembagian kamar, bahkan makanan.
Sekitar jam 10 malam barulah semua usai, melewati rangkaian masalah, beban, emosional, kecapekan dan segala macam. Akupun langsung terkapar dengan suksesnya.

Hari berat 1 di Samarinda terlewat sudah.

Read more...

Radio Worship

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP