Sunday, June 13, 2010

Lebih Dari Konser

“Hei… angkat kardus-kardus kaset itu kesana… cepat!!” perintah Willy

Aku langsung mengangkat kardus kardus itu tanpa membantah, meletakkannya di bawah meja yang telah disediakan, membukanya dan mulai menata satu persatu.

CD terbaru, kaset, buku, pernak pernik. Menata semenarik mungkin supaya orang ‘paling tidak’ bersedia mampir untuk sekedar melihatnya, atau sukur sukur mau membelinya


Terkadang jualan kami bisa laku banyak, tetapi kadang juga bisa sangat sedikit. Yah … namanya juga jualan.

Paling rame jika yang datang artis terkenal dan fenomenal kesaksiannya. Wah… aku bisa kalang kabut melayaninya. Sebenarnya, aku sering tak mengerti mengapa orang-orang itu tergila-gila pada artis ataupun hamba Tuhan yang sedang menjadi focus utama acara. Menurutku sih biasa saja… atau aku ini memang naïf dan bodoh seperti yang dikatakan sahabat-sahabatku itu yah? Entahlah…

Menjadi penjual kaset & CD rohani milik artis – artis Kristen itu sebenarnya menurutku lebih banyak tidak enaknya. Pertama, keuntungannya kecil. Kedua, males naik’in dan nurun’in mobil, belum lagi menata dan beres-beresnya. Ketiga, eneg sama tingkah laku artisnya, ha ha ha ha…

Parahnya, karena alasan terakhir diatas itu, aku juga jadi malas menyaksikan mereka di panggung. Menurutku, nggak asik! Dan akibatnya? Waktu mereka turun panggung dan menanyakan komentarku tentang penampilan mereka, aku lebih sering menjawab ‘tidak tahu’. Ha ha ha ha… memancing amarah!

“Gimana lu mau nawarin CD dan kaset gua, kalo lu ga lihat penampilan gua sungguh-sungguh!!” omel mereka

Tapi aku tidak memungkirinya, aku tidak tertarik! Mau gimana lagi??

***

Aku hampir selesai menata CD dan kaset sambil melamun, ketika terdengar teriakan keras yang seolah-oleh bisa membuat telingaku tembus kiri langsung kanan. Hahh lebay…

“Wadoooowwww…”

“Heh! Ngapain teriak begitu” bentakku ke Willy partner jualanku hari itu

“Ini…” katanya sambil meringis dan menyodorkan tangannya padaku

“Kalajengking…” sambungnya lagi, matanya terarah ke kakinya, terlihat binatang itu sudah remuk di ujung sepatunya. Tapi wajahnya terlihat memerah, menahan sakit

“Waduhhhh…” jawabku sambil menyambar tali pengikat kardus dan mengikat tangannya kencang

“Pasti sakit banget ya wil… tahan sebentar yah… aku akan mengantarmu ke klinik” Aku memperhatikan wajahnya, terlihat sangat merah, matanya berkaca-kaca, pasti sangat sakit.

Aku memegang erat bahunya, berteriak kepada partner kami yang lain, sopir, dan segera menuntunnya ke mobil.

***

Aku dan Willy sebenarnya seperti kutub utara dan kutub selatan. Dia sangat berbeda denganku (itu jelas karena aku cewek dan dia cowok). Dia suka mengomentari rambut pendekku yang acak-acakan, celana jeans dan kemejaku, serta kesukaan kami yang bertolak belakang.

Dia menyukai penampilan para artis, sedangkan aku tidak. Aku sangat suka nongkrong dan berbicara tentang hal apapun termasuk ‘Tuhan dan kehidupan’ dengan sesama penjual lain yang juga menggelar dagangannya, sedangkan Willy tidak.

Terakhir kami bertengkar hebat karena komentarnya yang terasa pedas di kupingku. Entah siapa yang memulai, tetapi emosiku naik begitu saja, dan dengan sekali sentakan aku langsung mencengkeram kerah bajunya dan melayangkan pukulanku ke wajahnya. Jika teman-teman lain tidak segera berdatangan, kami pasti sudah berdarah-darah… ha ha ha…

Hingga peristiwa itu terjadi, sebenarnya telah satu minggu lebih kami tidak saling bicara.

***

Tur KKR masih 2 hari lagi, dan kondisi Willy sudah lebih baik.

Aku masih menata dan meletakkan CD serta kaset di meja, ketika tepukannya di punggung mengagetkanku.

“Nih, kubawakan 2 burger. Satu untukmu dan satu untukku. Kamu belum makan ‘kan? Lumayan buat mengganjal perut. Oya, thanks buat pertolonganmu, ga tahu gimana… ternyata kamu tidak seperti yang kupikirkan. Apa kamu bisa sharing soal ‘kasih nyata’ lagi padaku?” katanya panjang lebar dengan tersenyum

Kali ini aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, kuambil burger di tangannya dan mulai berbicara dengan mata berbinar-binar.

Suaraku, semangatku, sukacitaku, melebihi suara music dan kotbah pendeta terkenal hari itu…

Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, Supaya aku mendapat bagian dalamnya. 1 Korintus 9:16, 23


Sesuatu Tentang “Kamu”
1. Mereka Memanggilku “Kamu”
2. Lebih Dari Konser

0 comments:

Post a Comment

Hi sahabat, tengkyu banget udah mau komentar... ayo semangat!!

Radio Worship

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP