Tuesday, March 02, 2010

Si Boy Tak Sama Lagi

Aku melangkahkan kakiku ke deretan kursi di sebelah podium kehormatan pejabat Polri. Kuedarkan pandanganku dan bertemu dengan wajah salah satu pejabat pemerintah yang sangat kukenal. Tanpa ragu aku mendatanginya, dan mengulurkan tanganku.

"Ngapain di sini mbak... ngejob ya?" katanya sambil tersenyum

GUBRAAAAKKKKK!!! pertanyaan yang sama sekali tak terduga olehku. Ini, gara-gara aku hoby 'ngejob'... everywhere... everyplace... ha ha ha ha...

Aku menjawabnya dengan senyuman.. awas lo... kita selesaikan nanti lewat telpon.. umpatku dalam hati!

***


Aku duduk tenang di bangku undangan. Kunikmati betul keberuntunganku kali ini, aku yang biasanya pecicilan kesana kemari, terpaksa diam dan tenang sambil sesekali celingukan iseng ha ha ha...

Barisan para Perwira Polisi Sumber Sarjana memasuki lapangan diiringi musik. Tegap,rapi dan terlihat hebat.

Ada yang terasa 'luruh' di hatiku. Entah...

Salah satu dari mereka adalah 'si boy' ku. Aku bangga melihatnya dan sangat menyayanginya... tetapi Iik terkenal paling 'gengsi' mengeskpresikan perasaan yang terpendam. Ha ha ha...

***
Ingatanku melayang pada si Boy-ku.

Si Boy, yang dari kecil kumandikan di sumur, kugosok telapak kakinya yang tebal karena hobi main di hutan dekat rumah. Tidak hanya waktu kecil, tapi juga waktu patah pergelangan tangannya saat SMA. Kugosok punggungnya sambil mengomel dan menggodanya dengan heboh. Bahkan waktu bulan Februari 2009 kemarin aku masih memandikannya waktu ia tergeletak tak berdaya di rumah sakit beberapa hari.

Si Boy, yang dulu sering kubonceng dengan sepedaku kesana kemari, bahkan pernah kelupaan tidak kuturunkan dari boncengan waktu aku main ke rumah teman. Aku baru tersadar beberapa saat kemudian, dan dengan senyum manis si boy memakluminya.

Si Boy, yang hobi menangis saat malam tiba karena ingin dikeloni. Bahkan saat menginjak Sekolah Dasar dan suaranya sudah mulai berubah, dia tetap penakut. Dia rela tidur sempit-sempitan di tempat tidur kecilku yang sudah harus kubagi dengan Si Eneng, adik perempuan kami yang terkecil.

Si Boy, yang rambut kepalanya ikal mirip 'Nidji' sering kupermainkan kalau kami kebetulan sedang tiduran bersama di depan TV. Kumasukkan jariku ke rambut di kepalanya dan kutarik. Ha ha ha.... aku tak akan puas sebelum dia menjerit. Atau kalau aku sedang berbaik hati, ku elus rambutnya yang lembut bergelombang, yang pernah dipeliharanya sepanjang rambutku.

Si Boy, yang selalu bangga dengan bau badannya dan sering melemparkan kaos baunya ke arahku.

Si Boy, yang menyukai bantal busuknya, sepatu busuknya, tas busuknya, dan selalu marah jika benda-benda kesayangannya itu ketahuan ku cuci bersih.

Si Boy, yang tidak pernah mengungkapkan rasa sayang dan kangennya jika aku pergi berbulan-bulan dari rumah untuk tugas. Ungkapan perasaannya hanyalah dengan sengaja tidur dengan badan bau di kasurku yang wangi dan bersih. Jika aku sudah marah, cengiran khasnya sebenarnya mengungkapkan bahwa ia begitu rindu padaku.

Si Boy yang tidak pernah mengungkapkan perhatiannya padaku, kecuali melongok tepat di wajahku saat aku tidur sambil berkata, "kamu tidur atau mati? Kok nggak bangun-bangun sih?" Atau dengan mencubit telapak kakiku supaya aku kaget dan marah.

Si Boy, yang kutunggui dengan setia setiap malam saat dirawat di RS. Aku selalu tertidur di atas bangku plastik kamarnya yang kususun berderet 4, hingga suatu malam aku jatuh terjengkang dari sana dan membangunkan tetangga satu kamarnya Betul-betul kakak yang aneh... he he he..

Si Boy yang kupaksa ikut ujian Perwira Polisi, kumarah-marahi dan ku bangkitkan rasa percaya dirinya yang menguap ke langit ke tujuh setelah sakit yang dideritanya. Si Boy yang kupaksa lari putar keliling kampung, dan push up 100 kali. Si Boy berhasil melewati semua ujian sulit itu, dan memenangkan pertandingannya.

Si Boy, yang saat diijinkan menelponku hanya cengingisan tertawa tanpa arti dan akupun menjawabnya dengan cengengesan tanpa arti juga.

Si Boy itu yang hari ini memakai baju rapi, perut rata, plontos, badan bagus dan juga wangi.

Si Boy, yang hidupnya penuh aturan, tidak lagi bisa sembarangan dan seenaknya saja.

***
Ketika upacara usai, dengan segera Si Boy mendatangi ibu, eneng, dan mencium tanganku. Aku memeluknya, merangkul teman-temannya dan berfoto dengan mereka meriah.

Hingga...

Ibu menyenggolku dan berbisik sangat pelan di telingaku, "Tak ada seorangpun keluarga kita termasuk 'orang itu' yang mengucapkan selamat, padahal mereka tahu hari ini pelantikan si Boy.."

"Sudah! Tidak apa-apa. Kita yang memeliharanya, merawatnya, menjaganya, mendidiknya dari kecil. Kita juga yang bersamanya di saat suka duka, jadi yaaa... kita jugalah yang patut bangga untuknya. Kita terima ini sebagai penghiburan luar biasa dari Tuhan di tengah kesesakan kita.. " kataku sambil mengelus punggung ibuku (akhirnya aku berhasil menjadi selembut ini... horeeeeee).

Aku tak tahu apakah itu jawaban tepat atau tidak untuknya di tengah galau yang merajai hatiku sendiri.

Aku bangga padanya.

Terbanglah tinggi rajawaliku. Mengabdilah bagi bangsa kita dan jadilah yang terbaik bagi negeri ini Boy...(doaku dengan gaya lebay... ha ha ha ..)

Btw, ... I Love You so much Boy...

itu saja!

* potonya lihat aja di pesbuk ^_^ he he he...

0 comments:

Post a Comment

Hi sahabat, tengkyu banget udah mau komentar... ayo semangat!!

Radio Worship

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP